Review Buku Lagom : Rahasia Hidup Orang Swedia - Lola A. Akerstrom



Seperti dilansir World Happines Report pada tahun 2020 lalu, Swedia menjadi salah satu negara dengan penduduk paling bahagia di dunia. Ditengarai hal ini karena filosofi hidup yang dianut masyarakat Swedia, yakni Lagom. Dalam realitasnya bagi bangsa Nordic ini, lagom bukanlah sebatas kata belaka. Melainkan telah mengakar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Swedia.

Lagom (baca: laaw-gem), dalam bahasa indonesia bisa diartikan sesuai atau "pas". Tak terlalu berlebih, tapi juga tidak kurang. Hal ini tampak sederhana. Namun, filosofi tersebut sangat membekas dan menguasai sudut pandang dan cara hidup orang Swedia, baik tataran individu maupun kelompok. Bahkan filosofi hidup ini telah mendarahdaging sejak dulu kala.

Bagi masyarakat Swedia, Lagom telah berhasil menghadirkan keserasian individual. Lagom telah jadi panduan bagi seseorang untuk menemukan kepuasan diri dalam kondisi dan situasi apapun.

Kebahagiaan ini ditinjau dari beberapa aspek, yakni kultur, makanan, kesejahteraan hingga keuangan.


Sekilas Isi Buku

Buku ini ditulis oleh Lola A. Akerstrom seorang penulis, pembicara dan fotografer peraih penghargaan National Geographic Creative. Buku Lagom  terdiri dari 11 bagian.

Ketika kamu membaca buku ini, sebelum masuk ke daftar isi, kamu akan disuguhkan halaman peta buku yang menjelaskan asal kata dan arti lagom, apa saja yang dipelajari dari lagom, bagaimana cara penerapan lagom dalam keseharian, keunggulan buku dan bagaimana perusahaan asal Swedia menerapkan lagom.

Selanjutnya, buku ini juga menampilkan latar belakang historis catatan penulis dan ketertarikan penulis dengan konsep lagom ini.

Bagian 1 : Pendahuluan + Penjelasan

Bagian 2 : Kultur + Emosi

Bagian 3 : Makanan + Perayaan

Bagian 4 : Kesehatan + Kesejahteraan

Bagian 5 : Kecantikan + Mode

Bagian 6 : Kehidupan Sosial + Bermain

Bagian 7 : Pekerjaan + Bisnis

Bagian 8 : Uang + Keuangan

Bagian 9 : Alam + Kesinambungan

Bagian 10 : Lagom di Dunia yang Berubah-ubah

Melalui bagian-bagian dalam buku, lagom dibahas secara mendalam dalam segala aspek kehidupan. Ketika membaca buku ini kamu akan dibuat terangguk-angguk, meskipun pada beberapa bagian kamu akan mendapati adanya perbedaan prinsip dengan dirimu.


Sejarah Filosofi Lagom

Lagom sebagai sebuah gaya hidup memiliki sejarah yang panjang. Bahkan, masyarakat Swedia pun tidak tahu sejak kapan lagom ini menjadi kesadaran bersama. Diperkirakan lagom mulai tumbuh antara abad ke-8 dan ke-11 M, sejak masa kaum Viking.

Setelah kaum Viking lelah menjarah, diyakini sebagai permulaan pola pikir lagom. Berawal dari tradisi meminum mead -minuman beralkohol dari pengawetan madu- yang dilakukan kaum Viking. Kemudian mereka bergantian meminum segelas mead bagiannya dengan tidak berlebihan.

Mulai saat itu lagom mulai bergeser pemaknaannya. Hingga pada akhirnya, lagom menjadi lambang dari moderasi antar dua hal yang bertentangan, tapi saling berkesinambungan. Lagom kemudian menjadi pertemuan antara sesuatu yang tak terlalu berlebih, tapi juga tidak kurang.

kehadiran Kristen Lutheran yang memiliki sejarah panjang di Swedia semakin menambah kekayaan makna lagom. Sumbangsih nilai-nilai dalam Kristen Lutheran terwujud pada makna kesederhanaan, keselarasan dan keadilan sosial.

Hingga pada puncaknya, lagom mengokohkan kehadirannya di tengah-tengah masyarakat untuk memberikan rasa aman dan menghindarkan hal-hal yang berpotensi merepotkan orang lain.


Contoh Penerapan Lagom dalam Keseharian

Dalam buku ini, Lagom telah menjadi semacam ideologi yang disepakati semua masyarakat Swedia. Lagom hadir menjadi ruh masyarakat Swedia dalam rutinitas kesehariannya. Lagom adalah denyut nadi, prinsip, dan aturan bangsa Nordic ini.

Sebagai contoh dalam jamuah makan sebuah perayaan. Seperti ditulis Margareta Schildt Landgren, penulis buku resep makanan dan artikel makanan Swedia, menurutnya makanan orang Swedia melambangkan Lagom.

Orang Swedia memiliki prinsip tersendiri dalam pengolahan makanan. Makanan yang dimasak bukanlah sesuatu yang mewah, tapi juga tidak terkesan sederhana. Bumbu-bumbu yang digunakan juga secukupnya, tak telalu banyak, tapi juga tak terlalu sedikit. Ketika menyantap suatu makanan, orang Swedia juga menerapkan prinsip yang sama.

Contoh lainnya dalam bidang kesejahteraan dan kesehatan. Lagom menuntun masyarakat Swedia agar membuat sebuah pertanyaan kepada dirinya sendiri tentang hakikat menjalani kehidupan yang berkualitas.

Melalaui pertanyaan itu, masyarakat Swedia dibimbing untuk mendapatkan keselarasan dalam hidupnya. Penemuan jawaban atas pertanyataan itu dapat menuntun orang Swedia pada keseimbangan hidup dalam kondisi yang sehat, baik sehat secara lahir maupun batin.

Melalui buku ini penulis juga menegaskan bahwa orang Swedia bekerja untuk hidup, buku hidup untuk bekerja. Fleksibilitas menjadi sesuatu yang ditekankan ketika mereka bekerja. Misalnya, seorang ayah dapat pulang kantor lebih awal untuk menjemput anaknya dari sekolah. Mereka juga dapat meninggalkan pekerjaan sejenak untuk memenuhi janji pertemuan pribadi. Termasuk dalam urusan cuti melahirkan, mereka dapat mengurangi sekitar 50% hingga 75% jam kerja.

Penerapan Lagom juga dalam hal penataan rumah. Perabot-perabotan di rumah dirancang sepraktis mungkin, simpel, dan mudah digunakan. Secara lebih rinci, konsep tentang pengaturan rumah ini dapat kamu baca di halaman 117 buku ini.

Contoh di atas hanyalah sebagian dari penerapan Lagom dalam kehidupan sehari-hari. Di buku ini ada banyak bidang yang disinggung sebagai contoh penerapan filosofi lagom oleh masyarakat Swedia. Dengan prinsip lagom ini, pada akhirnya menjadikan Swedia sebagai negara yang terkenal dengan standar hidup tinggi.


Lagom dalam Gaya Hidup Masa Kini

Kehadiran internet telah mempercepat proses pertukaran informasi antar negara hingga antar benua. Termasuk gaya hidup masyarakat negara lain yang dapat dengan mudah kita ketahui.

Dengan adanya internet kita dapat mengetahui resep umur panjang ala Ikigai orang Jepang, atau pola hidup nyaman dan intim bangsa Denmark yang disebut Hygge. Baca Review Buku Hygge di sini.

Lagom sebagai sebuah filosofi juga dapat dijadikan alternatif tambahan yang bisa kita pelajari dan terapkan dalam keseharian kita.


Buku ini sangat menarik untuk dibaca karena gaya bahasanya yang tidak monoton. Selain itu, buku ini juga menjelaskan penerapannya dalam masing-masing bidang.

Sebagai penutup, Indonesia memang bukan Swedia, dan kita memiliki budaya yang berbeda. Kita sebagai bangsa yang besar tak perlu berkecil hati lantaran hasil survei dunia menempatkan kita jauh di bawah Swedia. Kita juga memiliki nilai-nilai luhur lain yang tidak dimiliki negara lain, misal gotong royong atau sebagai negara paling dermawan.

Meskipun demikian, tidak ada salahnya jika kita menyerap nilai-nilai hidup ala orang Swedia untuk meningkatkan kualitas hidup kita.

Apakah kamu tertarik untuk membaca buku ini? Atau malah sudah menerapkan Lagom dalam keseharian?


Spesifikasi Buku:

Judul: Lagom : Rahasia Hidup Bahagia Orang Swedia

Penerbit: Renebook

Penulis: Lola A. Åkerström

Halaman: 244 hlm

ISBN: 978-602-1201-81-7

Berat: 400 Gram

Dimensi (P/L/T): 14 Cm / 21 Cm/ 0 Cm

Jenis Cover: Hard Cover


+ Kondisi Buku: Original, Baru dan Bersegel

+ Harga Toko: RP 95.000


Beli Buku Lagom : Rahasia Hidup Orang Swedia

Jika teman-teman berkeinginan untuk membeli buku ini, teman-teman dapat menghubungi Kak Vida via WhatsApp atau langsung mengunjungi website Toko Buku Creavida di sini atau https://creavida.co.id/

Belum ada Komentar untuk "Review Buku Lagom : Rahasia Hidup Orang Swedia - Lola A. Akerstrom"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel