Ulasan Novel Egosentris - Syahid Muhammad



Setiap orang punya perannya masing - masing untuk satu sama lain hal.98


Egosentris adalah sebuah novel yang menitikberatkan konflik kecemasan atau bisa  dikatakan berkaitan dengan mental illness. Permulaan dari novel ini dikaitkan dengan sebuah prolog yang mana terdapat cuplikan kesedihan dan kebencian dari tokoh yang belum diketahui siapa.


Novel setebal 372 halaman ini menceritakan persahabatan dengan latar belakangnya masing - masing, fatih dengan masa lalunya yang pahit berusaha membantu ibunya berjualan keripik untuk memenuhi kehidupan, saka yang sudah ditinggal sang ayah merasa bertanggung jawab untuk menjaga ibu dan adik - adiknya, namun kerasnya saka terhadap adiknya membuat suasana rumah tak pernah damai ia kesal terhadap dirinya mengapa sekeras itu dan fana hidupnya selalu diatur oleh orang tua, bahkan hingga makanan dan untuk masa depannya, ia hanya ingin kebebasan untuk memilih.


Sebagaimana novel pada umumnya, penulis menuturkan cerita dari berbagai sudut pandang tokoh-tokoh yang ada di cerita. Namun uniknya, sudut pandang tersebut ternyata saling terkait satu sama lain dengan latar belakang yang sama yang juga dialami oleh tokoh lain. Sederhananya, penulis dapat menggambarkan dengan apik satu peristiwa yang dialami oleh beberapa tokoh cerita dengan masing-masing sudut pandang yang berbeda.


Novel ini hanya kerangkanya bergenre romance, tapi sejatinya banyak nasihat baik didalamnya mengajarkan bahwa berfikir sebelum hertindak karena yang menerima konsekuensinya adalah kita sendiri.


Melalui buku ini, kita dapat membayangkan bahwa di luar sana ada orang yang mengalami pergolakan batin dan melawannya habis-habisan, sampai-sampai ia tak menyadari bahwa ia sedang sakit, saking seringnya berpura-pura baik-baik saja. Sayangnya buku ini tidak secara eksplisit memberi jalan bagaimana harus menghadapi seseorang yang "batu" seperti Fatih. Nyatanya kita tidak bisa mengharapkan orang seperti dia untuk sadar dengan sendirinya. Parahnya lagi, tidak jarang mental health issues digunakan sebagai excuse untuk menyakiti orang lain atas nama penyakit. Singkatnya, orang yang "mengaku sakit mental" sering kali menuntut orang lain untuk memahami sakitnya, tanpa tahu dan mempertimbangkan bahwa perilaku "menuntut" itu juga sering kali menyakiti orang lain. Tak jarang, mereka terlalu sensitif terhadap orang lain yang bahkan tidak bermaksud bersikap ofensif terhadapnya. Dari sini, prinsip yang selalu saya pegang adalah feel offended is taken not given. Itu artinya Saya merasa tersinggung karena saya memilih untuk tersinggung. Merasa tersinggung itu adalah pilihan karena ada pilihan untuk tidak ambil pusing, masa bodo, dan tidak peduli terhadap sikap dan ucapan orang lain. 


Pada intinya, buku ini mengajarkan kita untuk peduli seperlunya dan bertindak sewajarnya sebagai kata yang pas untuk menjalani hidup yang semakin dipenuhi oleh manusia-manusia "sakit".  Selain itu, buku ini juga mengajarkan untuk melihat dan memposisikan diri sebagai orang lain yang sering kita judge. Sebagaimana judulnya, buku ini mengajarkan saya untuk tidak menjadi manusia yang egois.

Kita tidak pernah tau bagaimana rasanya masalah kita dibercandain orang lain. Kita tidak pernah sadar seberapa kuat hal - hal yang dilewati orang lain untuk tetap baik baik saja.


Spesifikasi Buku:

Jumlah Halaman: 372 hlm

Tanggal Terbit: 6 Mar 2018

ISBN: 9786022081654

Bahasa: Indonesia

Penerbit: Gradien Mediatama

Berat: 0.350 kg

Lebar: 13 cm

Panjang: 19 cm


Diolah dari berbagai sumber

Belum ada Komentar untuk "Ulasan Novel Egosentris - Syahid Muhammad"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel