Resensi Novel Dilarang Bercanda dengan Kenangan


“Kalau saja kita bisa bercanda dengan kenangan, Jo.” Setitik air mata bergulir di pipinya. “Setelah berbulan-bulan tidak melihat jejakmu di sini, aku semakin dekat dengan aktivis LSM dari Meulaboh. Bulan lalu kami bertunangan.” Aida menggigit bibirnya. Suaranya seperti terhambat dari tenggorokan. “Ternyata jodohku memang di Indonesia, dengan orang Indonesia, namun datang melalui cara yang tak kumengerti. Dua bulan lagi kami menikah, Jo. Maafkan aku, cintaku yang tak pernah hilang, maafkan aku”. Air matanya berderai, sehingga dia memalingkan wajahnya dariku. (hal. 463)


Buku “Dilarang Bercanda dengan Kenangan” adalah novel yang ditulis oleh Akmal Nasery Basral. Novel ini merupakan pengembangan dari sebuah cerpen berjudul sama yang terdapat pada antalogi Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006). Antologi ini termasuk dalam 5 Besar nominasi prosa Khatulistiwa Literary Award (kini Kusala Sastra Khatulistiwa, 2007). Lalu novel ini berkisah tentang apa? Mungkinkah tentang seseorang yang tak bisa beranjak dari kenangan masa lalunya?


Novel ini mengisahkan tentang seorang pemuda yang sedang belajar ilmu PR (Public Relations) di University of Leeds, Inggris. Johansyah Ibrahim nama pemuda itu. Namun lebih akrab disapa Jo. Selama mengikuti short course, Jo berkenalan dengan banyak teman dari berbagai negara. Di antara teman kuliahnya, ternyata ada yang menaruh hati kepada dirinya. Namun, Jo tak menyadari hal tersebut. Di hati Jo saat itu hanya menyisakan satu tempat untuk Tiara. Dia adalah cinta pertama Jo yang sebenarnya masih sepupunya sendiri. Jo tak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintanya kepada Tiara, dia khawatir jika akhirnya ditolak dan merusak hubungan yang selama ini sangat baik.


Kedatangan Jo ke Inggris bersamaan dengan peristiwa meninggalnya Putri Diana dengan kekasih Dodi Al Fayed. Tak ingin melewatkan peristiwa langka itu, akhirnya Jo pun pergi ke London untuk mengikuti prosesi pemakaman Putri Diana. Petualangan cinta Jo dimulai ketika dia berkenalan dengan jurnalis Jordania, keturunan Kurdi-Rumania. Khaleeda O. Jderescue, namun akrab disapa Aida. Ketika itu Jo bertemu dengan Aida secara tidak sengaja di Montparnasse Cafe yang kebetulan penuh orang. Aida yang tidak mendapatkan meja menanyakan apakah Jo mau untuk berbagi kursi, dan Jo mempersilahkan Aida untuk duduk.


Berhubung Aida sedang membutuhkan narasumber yang tepat untuk diwawancarai, Aida menanyakan apakah Jo bersedia untuk dia wawancara, Jo pun mengiyakan permintaan itu. Selesai wawancara dan makan malam, Aida bermaksud kembali ke hotel dan menulis laporan yang harus dikirim malam itu juga. Namun sebelum beranjak Aida sempat bertanya kepada Jo, apakah dirinya sudah memiliki penginapan, dan ternyata Jo belum memiliki penginapan. Aida bermaksud untuk memberinya tumpangan menginap, sebenarnya Jo enggan, namun setelah dipikir seperti tidak ada pilihan lain, begitu pikir Jo.


“Aku mencoba membaca bahasa tubuhnya. Aida perempuan cerdas, memiliki kepercayaan diri tinggi, berpenampilan menarik secara alami. Jika ketiga faktor itu bersekutu pada diri seorang perempuan, itu menjadi magnet yang lebih kuat bagiku dibandingkan pesona sebuah perpustakaan” (hal.47)


Sikap dan perhatian Jo kepada Aida selama beberapa hari telah membuat Aida jatuh hati. Aida kerap merasa cemburu dan marah. Seolah-olah Jo adalah kekasihnya saja. Padahal Jo sendiri hanya mencintai satu perempuan, yaitu Tiara. Namun, Aida ingin Jo untuk selalu disampingnya. Aida sadar bahwa dia egois.


“Aku tahu. Ini tak seharusnya terjadi. Kita bukan sepasang kekasih. Aku tak berhak cemburu kepadamu. Apalagi kita benar-benar baru bertemu. Nalarku berulang kali mengatakan itu. Tetapi di sisi lain, hatiku juga tak bisa berbohong. Sejak mendengar pembicaraanmu dengan Gaby, aku tak bisa tidur lagi. Bahkan setelah kita membicarakannya saat sarapan tadi pagi, aku yakin bahwa setelah kita tak akan pernah bertemu lagi” (hal.130)


Berkat bantuan Igor, akhirnya Jo kini resmi berpacaran dengan Tiara. Seperti Jo, Tiara juga telah sangat lama memedam perasaanya kepada Jo, namun dia merasa tak pantas jika mengungkapkan perasaanya itu. Kabar gembira itu pun langsung disampaikan kepada orangtua Tiara. Orangtua Tiara menyarankan agar mereka tidak terlalu lama berpacaran, lebih baik langsung menikah saja. Akhirnya mereka pun menikah di Masjid London Central. Sementara Aida entah tak ada kabar lagi.


Namun pernikahan mereka tidak berjalan mulus. Badai rumah tangga mulai mengusik biduk rumah tangga mereka. Tiara didiagnosis dokter positif mengidap PCOS (kondisi terganggunya fungsi ovarium). Artinya peluang untuk melahirkan sangat kecil, meski pada beberapa kasus penderita PCOS yang menjalani terapi jangka panjang bisa sembuh dan bisa melahirkan anak. Puntiran takdir membawa mereka menuju perpisahan. Menurut Tiara ritme hidup mereka semakin berbeda. Dan ternyata keduanya bisa hidup sendiri-sendiri tanpa membutuhkan satu sama lain. Bukan hanya itu, Tiara juga merasa bahwa Josh adalah satu-satunya orang yang mengertinya. Akhirnya mereka pun bercerai, ketika pernikahan mereka baru berumur empat tahun. Belum sampai setahun bercerai, Jo dikagetkan dengan kabar bahwa Tiara akan menikah dengan Josh.


“Hadapi masalah, cari jalan keluar, berpiikir positif, berani bertindak, dan lanjutkan hidup dengan rencana baru. Jika Tiara bisa, kamu juga bisa, Jo. Jangan terpaku pada masa lalu. Jangan bercanda dengan kenangan! Bangkit dan mulai lagi lembaran baru hidupmu” (hal.396)


Meski tanpa didasari cinta, Jo kembali menikah. Jo menikahi Ava, janda yang ditinggal mati Toro, kakak Tiara. Jo harus menerima kenyataan kondisi Ava yang tengah hamil buah pernikahannya dengan Toro. Namun, lagi-lagi kebahagian sepertinya tak pernah jenak pada diri Jo. Pernikahan itu pun harus berakhir. Ava tak bisa menerima Jo yang selalu mengingat dan mengigau dengan menyebut nama Tiara. Sebenaranya, Ava masih bisa memaklumi hal tersebut, namun tidak untuk satu nama lagi, AIDA. Ava jelas tidak bisa terima ada perempuan lain dalam hati Jo.


Novel ini sungguh sangat mengaggumkan. Alur dan plot dalam setiap bagiannya sangat menarik diikuti. Setiap adegannya berjalan cepat tanpa mengabaikan alur. Penulis mampu memaparkan seluk beluk jalan dan kota yang digunakan sebagai setting terjadinya cerita ini. Jika umumnya cerita/ kisah dalam novel selalu berakhir bahagia, namun tidak dengan novel yang ditulis Akmal Nasery Basral ini. Penulis lebih memilih untuk mengakhiri novelnya dengan kesedihan yang harus dialami Johansyah Ibrahim. Ternyata benar, jika kita tak bisa bermain hati, karena pesona romansanya memancarkan elegi dan tragedinya sendiri.


Ridwan Nurochman

Belum ada Komentar untuk "Resensi Novel Dilarang Bercanda dengan Kenangan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel