Review Buku I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki

“Kapan nikah” dan “kok kamu gemukan” merupakan kalimat yang tidak asing kita dengar dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagian besar orang menganggap kalimat tersebut sebagai basa-basi atau candaan belaka.

“Kapan nikah” dan “kok kamu gemukan” merupakan kalimat yang tidak asing kita dengar dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagian besar orang menganggap kalimat tersebut sebagai basa-basi atau candaan belaka.

I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki yang pernah dibaca Kim Nam-joon atau RM (leader grup K-Pop BTS) ini, Se Hee membagikan pengalamannya ketika mengalami krisis kepercayaan diri sampai tidak mampu mencintai dirinya.

Penyebabnya adalah komentar dari teman-temannya terhadap penampilan dan citra tubuhnya. Se Hee menjadi mudah putus asa, tidak percaya diri ketika bertemu orang lain, bahkan berpikiran untuk bunuh diri.

“I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki adalah esai yang unik,” ujar dr Jiemi Ardian SpKJ terhadap esai laris terjemahan dari bahasa Korea yang versi Bahasa Indonesianya telah diterbitkan Penerbit Haru pada Oktober 2019 ini.

Membaca novel ini, pembaca akan dibawa untuk mengarungi perjalanan Se Hee bersama psikiaternya untuk mengatasi persistent depressive disorder (distimia) yang diderita oleh penulis.

Distimia adalah sebuah depresi yang terus-menerus terjadi dalam jangka yang sangat panjang.

Meski buku ini penuh dengan kisah pribadi, penulis memasukkan opini dari psikiaternya yang mengajaknya menemukan akar permasalahan dan bergerak ke arah yang lebih sehat.

Apabila luka di hati tidak lagi disepelekan dan kesadaran mengenai kesehatan jiwa meningkat, diharapkan orang-orang bisa berani mengambil langkah untuk menolong diri sendiri, termasuk mencari bantuan ke psikiater atau psikolog.

“Orang-orang begitu sensitif terhadap luka di tubuh, tetapi kurang peka dan cenderung menyepelekan luka di hati,” tegas Se Hee dalam sebuah wawancara.

Melalui buku yang telah dibaca lebih dari 400.000 orang (data Juni 2019) ini, Se Hee berharap orang-orang yang sedang terpuruk dan mengalami kisah serupa dengannya, tahu bahwa mereka tidak sendirian.


Belum ada Komentar untuk "Review Buku I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel