Review Buku The Art of Thinking Clearly

Pernahkah di dalam hidupmu, kamu merasa salah karena telah mengambil suatu tindakan? Atau kamu justru merasa salah karena tidak mengambil suatu tindakan? Mungkin kamu ragu terhadap pilihan yang telah kamu ambil?

Yang demikian itu bisa terjadi jika di dalam proses pengambilan keputusan, kamu terjebak oleh bias dan “ilusi” kognitif, yang dengan berbagai bentuk dan macamnya, dapat mengelabuhi pikiran jernih kamu dengan aspek-aspek yang tidak relevan dengan solusi dari masalah yang sedang kamu pikirkan.
Dapat dimaklumi bahwa hal-hal yang seperti itu adalah sifat alami manusia: salah. Setiap manusia yang pernah hidup pasti pernah salah. Namun, manusia yang berulang kali salah di tempat yang sama, bukanlah manusia yang belajar, bukanlah manusia yang berpikir. Maka dari itu, kita sebagai manusia, seyogianya harus berupaya mencegah kesalahan yang sama, begitu pula menghindari kesalahan yang belum pernah kita alami dan mungkin akan terjadi di masa depan.


Kandungan

Buku psikologi karya Rolf Dobelli ini mengemas 99 bias dan ilusi pikiran yang dapat dialami di dalam kehidupan keseharian manusia. Aku merasa bahwa sebagian besar bias-bias dan ilusi-ilusi yang dipaparkan oleh Dobelli di buku ini sangat relevan dengan kehidupan sehari-hariku sebagai orang Indonesia.

Aku merasakan masih terlampau seringnya masyarakat Indonesia pada umumnya terjebak dalam bias dan ilusi dalam proses berpikirnya. Pemerintah Indonesia pada khususnya juga sering terjebak bias dan ilusi pikiran, sehingga memengaruhi pengambilan keputusan yang sering berujung pada terjadinya kerugian-kerugian di ber
bagai pihak.

Aku akan menuliskan dua bab sebagai contoh, pertama bab Social Proof, dan kedua bab House-Money Effect.

Social Proof adalah kecenderungan kita untuk mempercayai apapun yang mayoritas masyarakat katakan. Contohnya seperti ini, “Sebagian besar masyarakat memilih golput dalam Pemilu, maka aku yakin jika golput itu adalah hal yang baik.” Pernyataan ini mirip dengan dogma: kita langsung ikut mempercayai saja bahwa golput itu baik, tanpa mau sedikitpun meneliti apakah golput itu sesungguhnya adalah hal yang baik.

House-Money Effect adalah kecenderungan kita untuk menganggap remeh uang yang diperoleh dengan mudah (hadiah kuis, sumbangan dermawan, angpao lebaran, dsb), sehingga kita merasa “mudah” untuk menghabiskan uang itu. Sangat sering kita merasa bersalah karena ini.
Selain dua bab di atas, buku berbahasa Inggris setebal 358 halaman ini juga mengandung penjelasan tentang 97 bias dan ilusi lainnya yang juga relevan dengan kondisi Indonesia dewasa ini.


Akhiran

Melalui buku ini kita dapat melatih pikiran kita untuk mencegah terjadinya kesalahan yang pernah terjadi, dan juga mencegah kesalahan yang belum pernah terjadi di dalam hidup kita.


Sumber: konsep.akafuri.com

Belum ada Komentar untuk "Review Buku The Art of Thinking Clearly"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel