Review Novel Animal Farm Pemberontakan Hewan Rasa Manusia


Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengonsumsi tanpa menghasilkan." -Animal Farm, George Orwell

Buku yang ditulis George Orwell tahun 1945 ini membawanya sebagai salah satu penulis dunia yang berpengaruh terhadap peradapan. Cantik! Terlambat membaca boleh daripada tidak sama sekali, saya tertarik membaca buku ini ketika sampul berwarna kuning ini menarik, George memang sudah bukan nama yang asing lagi bagi sastrawan, filsuf, dan pegiat buku. Maaf saya baru berani membacanya di tahun ini.

Aroma kertas yang sensual mengaduk-aduk isi pikiranku, saya pikir ada pengaruh aroma kertas terhadap psikologi. Menenangkannya tidak terperi. Hanya beberapa hari di waktu malam saya berhasil menamatkan kisah Animal Farm yang penuh dengan alegori politik. Terbayang nggak pada waktu itu Orwell mengimaginasikan Perang Dunia II atas nama hewan? Sungguh di zaman sekarangpun pemikrian Orwell seperti hujan yang membawa aroma aneh pada tanah tetapi benar adanya keserakahan adalah penghancur segalanya.

Jangan bertanya kenapa orang yang gemar membaca memiliki kecanduan yang tidak bisa dijelaskan: membaui kertas-kertas cetakan untuk buku tertentu. Apakah langsung bisa memahami isinya dengan aroma itu? hahaha.



Kisah ini wajib dibaca untuk kamu yang mengklaim sebagai penikmat sastra.

Saya tidak bisa berhenti membaca sejak membuka halaman pertama. Ketika Pak Jones lupa menutup lubang masuk keluar ayam karena mabuk berat. Kemudian si babi Putih-Tengah, si tua Major menyampaikan mimpinya yang aneh tentang pemberontakan hewan terhadap manusia.

Kenapa hewan mau mengabdi dan berkontribusi dengan manusia? Aneh pikirnya. Seolah-olah babi adalah perlopor penindasan. Di dunia hewan meskipun memiliki tubuh pendek dan gempal babi adalah hewan paling cerdas nomor satu, konon, disusul anjing. Kelakuan babi itu sendiri mungkin juga dilakukan manusia ketika mengalami ketidakadilan muncul pemberontakan akan suatu gagasan yang tidak jelas asal-usulnya. Ganas!

Menggunakan sudut pandang orang ketiga yang dalam, ketika terjadi percakapan antar hewan seolah-olah mereka memiliki akal seperti manusia. Hingga akhirnya antar hewan itu sendiri mengalami perpecahan, dan saling mencurigai. Haus kekuasaan dan keserakahan.

Ini seperti kehidupan manusia sendiri, pada waktu Orwell menulis Animal Farm tahun 1945 memang sedang terjadi Perang Dunia yang merugikan banyak pihak terutama masyarakat sipil yang tidak memiliki kepentingan politik yang mati sia-sia bahkan tidak tahu berjuang untuk apa. Sisa dari perang itu hanyalah menimbulkan kerugian besar. Ini dicerminkan pada saat kedua babi yang telah memenangkan kudeta kepada Pak Jones mengalami perselisihan dan saling memancing kecurigaan.

Manusia itu rakus?

Manusia itu serakah?

Manusia itu menindas?

Manusia itu babi?

Atau manusia itu anjing?

Buku ini mendedah semua paham dangkal keserakahan. Ada beberapa bagian yang akan menggelitik pikiranmu, dan hampir saja tertawa kalau mengingat ini adalah tingkah para hewan.


Sekarang, Kamerad, apa sih, sifat kehidupan kita? Mari kita hadapi: hidup kita ini sengsara, penuh kerja keras, dan pendek. Kita lahir, diberi begitu banyak makanan, sehingga menjaga napas dalam tubuh kita, dan di antara kita yang mampu dipaksa kerja dengan seluruh kekuatan kita sampai atom terakhir kekuatan kita; dan segera setelah kegunaan kita berakhir, kita disembelih dengan cara yang keji. Tak seekor binatang pun di Inggris tahu arti hidup bahagia atau waktu senggang sesudah ia berusia satu tahun. Tidak ada satu ekor bintang pun di Inggris ini yang bebas. Hidup seekor binatang supersengsara dan penuh perbudakan: ini adalah kenyataan yang sebenar-benarnya.” - Halaman 5


Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengonsumsi tanpa menghasilkan. Ia tidak memberi susu, ia tidak bertelur, ia terlalu lemah menarik bajak, ia tidak bisa lari cepat untuk menangkap terwelu. Namun, ia adalah penguasa atas semua binatang. Manusia menyuruh binatang bekerja, manusia mengembalikan seminimal mungkin hanya untuk menjaga supaya binatang tidak kelaparan,” - Halaman 6

Babi berkata demikian seolah-olah karena tenaga mereka diperah oleh orang-orang yang sewenang-wenang dan menyalahi aturan. Waktu itu, karyawan Pak Jones ada yang lupa memberi makan. Malah bersenang-senang dengan hiburan.

Menarik ketika si tua Major meninggal dan kemudian benar-benar terjadi perlawanan yang dipimpin oleh dua ekor babi, merebut peternakan Manor milik Pak Jones hingga terjadi pertarungan politik antar hewan yang merasa memiliki kebutuhan, toh tenaga mereka juga diperas. Kemudian suatu kali Pak Jones kembali ingin merebut namun malah ada manusia yang menjadi korban hewan. Hingga Napoleon memimpin dan menghapuskan beberapa aturan. Hewan-hewan merasa ada yang aneh tetapi lagi-lagi mereka mengiyakan hal-hal yang belum tentu benar dari Napoleon.

Bagaimana cara mereka menggarap sawah? Suatu kiasan yang menarik.

Banyak sekali nilai-nilai yang terkandung di buku ini, hingga ending yang tak pernah selesai. Harus dibaca sendiri supaya kamu memiliki pandangan dari membaca melalui pikiran, mata, dan hatimu.

Buku ini bagus untuk dibaca. Salam!


Spesifikasi Buku:

Penerbit: Bentang Pustaka
Penulis: George Orwell
Halaman: 148 hlm
ISBN: 9786022912828
Berat: 120 Gram
Dimensi (P/L/T): 13 Cm / 19 Cm/ 0 Cm
Jenis Cover: Soft Cover


Sumber:
https://kingkinkinamu.wordpress.com/2017/02/20/review-buku-animal-farm-pemberontakan-hewan-rasa-manusia/

Belum ada Komentar untuk "Review Novel Animal Farm Pemberontakan Hewan Rasa Manusia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel